PGRI dalam Menopang Profesionalitas Berbasis Nilai
Berikut adalah strategi PGRI dalam membangun profesionalitas yang berakar pada nilai:
1. Integrasi Teknologi dan Nilai Kemanusiaan (SLCC)
PGRI menyadari bahwa di era kecerdasan buatan, nilai kemanusiaan adalah pembeda utama antara guru dan mesin.
-
Etika Digital: PGRI menanamkan nilai kejujuran dan tanggung jawab dalam penggunaan perangkat digital, memastikan guru menjadi model peran bagi siswa dalam menghadapi arus informasi global.
2. Profesionalitas Berlandaskan Integritas (DKGI)
Nilai integritas adalah fondasi dari kepercayaan publik terhadap profesi guru.
3. Kedaulatan Berbasis Nilai Keadilan (LKBH)
Guru tidak dapat bekerja secara profesional jika hak-hak dasarnya terabaikan atau terancam.
-
Perlindungan Hukum yang Manusiawi: Melalui LKBH, PGRI menopang profesionalitas dengan memberikan rasa aman. Nilai keadilan diperjuangkan agar guru tidak dikriminalisasi saat menjalankan tugas edukatifnya yang berlandaskan nilai kedisiplinan.
-
Advokasi Hak dan Martabat: PGRI memastikan bahwa setiap kebijakan perlindungan guru dijalankan secara konsisten, sehingga profesionalitas tumbuh dari rasa dihargai dan dihormati oleh negara dan masyarakat.
4. Unitarisme: Nilai Solidaritas “Satu Jiwa” (One Soul)
Profesionalitas berbasis nilai juga mencakup cara guru berinteraksi dengan sejawatnya.
-
Kolektifisme vs Individualisme: Dengan semangat “Satu Jiwa” (One Soul), PGRI menopang profesionalitas melalui nilai gotong royong. Guru yang mahir wajib membantu yang kurang mahir, menghilangkan kasta profesional berdasarkan status kepegawaian.
-
Kepemimpinan yang Melayani: PGRI menanamkan nilai bahwa kepemimpinan di sekolah adalah tentang pelayanan, bukan kekuasaan. Ini menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan suportif bagi pertumbuhan profesional semua anggota.
Tabel: Transformasi Profesionalitas Berbasis Nilai via PGRI 2026
| Aspek | Profesionalitas Teknokratis (Lama) | Profesionalitas Berbasis Nilai (PGRI) |
| Fokus Utama | Pemenuhan angka kredit dan administrasi. | Pencapaian kualitas karakter & integritas. |
| Peran Teknologi | Menggantikan interaksi manusia. | Memperkuat sentuhan nilai kemanusiaan. |
| Relasi Sejawat | Kompetisi individu untuk karier. | Kolaborasi kolektif (Satu Jiwa). |
| Dasar Tindakan | Instruksi atasan (top-down). | Kode etik dan moralitas (DKGI). |
Kesimpulan:
PGRI memastikan bahwa profesionalitas guru Indonesia tidak menjadi “kering” di tengah modernisasi. Dengan menopang aspek kompetensi digital, perlindungan hukum, dan pengawasan etika, PGRI menjaga agar setiap guru tetap menjadi Edukator Berjiwa, yang pekerjaannya bukan sekadar profesi, melainkan pengabdian berbasis nilai luhur.
